Milih aja kok repot....
Sudah berlalu beberapa hari "pesta demokrasi" di negeri ini.
Sudah berlalu pula hingar bingar kampanye dan orasi untuk memikat rakyat.
Sudah berlalu pula ocehan janji-janji yang entah kapan akan ditepati.
Tetapi belumlah berlalu kerepotan-kerepotan yang mengganjal gara-gara cumi "cucah milih"
Masih banyak warga negara yang belum dan tidak memilih.
Dengan banyak partai diharapkan akan mengurangi warga negara yang mempunyai hak pilih tetapi tidak menggunakan hak pilihnya. Ternyata...tetep saja seperti yang lalu-lalu.
Mereka ini dibilang golput "golongan putih"
ada yang memang sengaja menggolputkan diri, ada juga yang secara sengaja atau tidak sengaja digolputkan karena tidak mendapatkan haknya untuk memilih.
Yang paling "asyik" ya menikmati pemikiran bagaimana warga negara sampai tidak mendapatkan haknya untuk memilih, atau dihilangkan haknya untuk memilih, dipersulit untuk memilih padahal mereka mau2 saja menggunakan haknya bahkan menuntut.
Entah karena memang sadar hak nya sebagai warga negara ataupun karena dibujuki oleh partai.
Yang pasti, menurut saya lho ya, sumbernya adalah DPT alias Daftar Pemilih tetap yang bersumber dari data kependudukan yang diterbitkan oleh dinas yang menangani kependudukan di masing2 kabupaten dan kota.
Lha kok bisa ruwet gimana dong.....????
Sudah berlalu pula hingar bingar kampanye dan orasi untuk memikat rakyat.
Sudah berlalu pula ocehan janji-janji yang entah kapan akan ditepati.
Tetapi belumlah berlalu kerepotan-kerepotan yang mengganjal gara-gara cumi "cucah milih"
Masih banyak warga negara yang belum dan tidak memilih.
Dengan banyak partai diharapkan akan mengurangi warga negara yang mempunyai hak pilih tetapi tidak menggunakan hak pilihnya. Ternyata...tetep saja seperti yang lalu-lalu.
Mereka ini dibilang golput "golongan putih"
ada yang memang sengaja menggolputkan diri, ada juga yang secara sengaja atau tidak sengaja digolputkan karena tidak mendapatkan haknya untuk memilih.
Yang paling "asyik" ya menikmati pemikiran bagaimana warga negara sampai tidak mendapatkan haknya untuk memilih, atau dihilangkan haknya untuk memilih, dipersulit untuk memilih padahal mereka mau2 saja menggunakan haknya bahkan menuntut.
Entah karena memang sadar hak nya sebagai warga negara ataupun karena dibujuki oleh partai.
Yang pasti, menurut saya lho ya, sumbernya adalah DPT alias Daftar Pemilih tetap yang bersumber dari data kependudukan yang diterbitkan oleh dinas yang menangani kependudukan di masing2 kabupaten dan kota.
Lha kok bisa ruwet gimana dong.....????

