ide
Tergantung dari masalah dan perubahannya, Bisa saja ide itu terasa kecil adanya namun dampak atau akibatnya akan memberikan perubahan yang signifikan dan sebaliknya.
Sejauh apakah penghargaan yang diberikan kepada orang yang memberikan atau menelurkan ide untuk memecahkan suatu masalah atau perubahan?
Bagi sebagian orang seringkali memberikan penghargaan terhadap ide adalah suatu hal yang dianggap biasa, dalam artian mereka memberikan penghargaan yang sepantasnya kepada yang memberikan ide. Bagi sebagian lain malah menjadi hal yang tidak biasa, alias tidak memberikan penghargaan kepada si pemberi ide.
Lebih gawat lagi ketika ide ini ternyata berkaitan dengan suatu bentuk barang atau jasa yang komersial. Sebagai contoh karya sastra, lagu, film, perangkat lunak, rancangan / arsitektur suatu mesin dan lain-lain. Yang kemudian memicu timbulnya Hak Atas Kekayaan Intelektual.
Kurangnya penghargaan kepada sang pencipta ide inilah yang pada akhirnya seakan-akan memberikan legitimasi kepada khalayak utk melakukan pembajakan. Padahal untuk menelurkan ide, diperlukan usaha dan kerja keras yang mungkin bahkan tidak terbayangkan oleh si pembajak ataupun sebagian yang menganggap penghargaan itu tidak perlu.
Bagi seseorang yang bekerja di sebuah organisasi, merasa sangat dihargai bila ide nya diterima sebagai bagian dari pemecahan masalah yang sedang dihadapi atau perubahan-perubahan yang sedang dan akan dilakukan dalam organisasinya.
Namun seringkali yang terjadi yaitu tidak diakuinya ide seseorang sebagai bagian dari pemecahan masalah ataupun perubahan ketika ada suatu pendapat yang diyakini bahwa sudah seharusnya seseorang itu sebagai anggota organisasi mengeluarkan ide nya untuk organisasi dan itu tidak perlu diberikan apresiasi.
Padahal, bisa jadi tidak banyak orang yang mau dan mampu untuk mengeluarkan suatu ide yang baik. Keberanian untuk mengeluarkan ide –-apalagi bila ide itu ternyata terbukti sangat bermanfaat—biasanya ditimbulkan oleh seseorang yang pada awalnya telah sedikit banyak mempelajari suatu pengetahuan atau memiliki skill di suatu bidang yang berkaitan dengan masalah atau perubahan-perubahan yang terjadi pada organisasi. Kualitas dan Validitas ide nya sangat berbeda daripada orang yang hanya sedikit sekali terlibat ataupun sekedar anut grubyuk.
Biasanya si penemu ide ini diikutsertakan dalam implementasi atau realisasi ide nya itu, dengan catatan memang bhw si penemu ide diakui oleh organisasi sebagai org yang tepat. Sebuah kejahatan moral terjadi bila si penemu ide ini hanya dijadikan “sapi perahan” bagi pimpinan atau yg berkuasa di organisasi itu dengan hanya “memeras” idenya tanpa adanya suatu penghargaan, bahkan sulit baginya untuk ikut merealisasikan idenya, bahkan untuk sekedar ingin tahu sejauh mana nasib realisasi idenya itu. Seolah-olah penemu ide ini hanyalah orang dari masa lalu, setelah ide yang disampaikannya terbukti bermanfaat maka berakhir pulalah posisinya hanya sebagai orang biasa yang tidak memberi manfaat apapun. Hanya dibilang “pernah membantu organisasi dalam perkembangannya”.
Penghargaan apakah yang diharapkan? Sudah barang tentu sangat tergantung pada situasi dan kondisi serta kebijakan dari pemimpin organisasinya.
Pemimpin yang bijaksana tidak hanya memanfaatkan ide bawahannya –untuk kepentingan diri pribadi-- namun juga memberikan reward yang pantas, wajar dan reward ini mendorong agar bawahannya ini tidak jauh dari kepeduliannya pada organisasi, terus belajar, mengasah diri agar tetap tajam, siap dengan amunisi ide ketika situasi dan kondisi membutuhkan.
Pimpinan yang mampu dan mau menghargai ide bawahannya, mengolahnya menjadi suatu tindakan yang nyata dan bekerjasama dengan erat untuk mesukseskannya, memberikan reward yang sehat, akan sangat mudah dalam memimpin organisasinya karena di dekatnya ada bawahan-bawahan yang siap memberinya masukan.


0 Comments:
Post a Comment
Subscribe to Post Comments [Atom]
<< Home